Mitos Atau Fakta: Konsumsi Kambing Berbahaya?

oleh -
Ilustrasi Olahan Daging (Foto : Mannakatering)

MAKASSAR, INTELLIGENT – Salah satu hari besar umat muslim, hari raya idul adha telah tiba. Berbagai olahan daging akan terhidang di meja makan. Terutama daging kambing dan daging sapi.

Daging merupakan salah satu komoditi pertanian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan protein, karena daging mengandung protein yang bermutu tinggi, yang mampu menyumbangkan asam amino esensial yang lengkap.

Namun sebagian besar orang khawatir untuk mengonsumsi daging, terutama olahan daging kambing. Mereka lebih memilih menyantap olahan daging ayam atau sapi dibandingkan daging kambing yang dinilai dapat meningkatkan kolestrol dalam darah.

Pendapat tersebut ternyata salah dan hanya mitos. Salah satu Dosen Gizi Daur Dalam Kehidupan (GDDK) Poltekkes Kemenkes Makassar (PKM), Thresia Dewi Kartini mengatakan, mengonsumsi daging kambing tidak menyebabkan kolesterol dalam darah naik.

“Kalau makan daging kambing tidak menyebabkan kolesterol naik, kecuali kalau makan jeroannya,” ungkapnya saat diwawancarai, Jumat (09/08).

Dikutip dari Direktorat Gizi Dapertemen Kesehatan RI, kandungan lemak 100 gram daging sapi nyatanya lebih banyak dibandingkan kandungan lemak 100 gram daging kambing. Lemak 100 gram daging sapi sejumlah 14,00 gram sedangkan lemak 100 gram daging kambing sejumlah 9,20 gram.

Walaupun begitu, mengonsumsi olahan daging tetap dibutuhkan oleh tubuh karena merupakan sumber utama pemenuhan protein dalam tubuh.

Seperti yang diungkapkan oleh dosen ilmu gizi PKM, Suriani Rauf. Menurutnya mengonsumsi olahan daging tetap sangat dianjurkan selama tidak ada indikasi klinis dan dikonsumsi dalam batas normal kebutuhan tubuh, yaitu 50-75 gram.

“Tidak apa-apa dikonsumsi selama tidak ada indikasi klinis dan dikonsumsi tidak berlebihan,” ujarnya.

*Reporter: Kru-03