Marak Zoombombing, Kanit IT Polkesmas Beri Tips Aman Pakai Zoom

oleh -
Ilustrasi Zoombombing oleh oknum tak bertanggung jawab (Foto : Liputan6.com)

MAKASSAR, INTELLIGENT – Pemberlakuan bekerja dan belajar dari rumah mengakibatkan pemakaian media virtual meeting meningkat. Salah satu media aplikasi yang paling diminati saat ini adalah Zoom. Namun, kini tengah marak terjadi Zoombombing diantara pengguna Zoom.

Zoombombing adalah peretasan yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab, sehingga memungkinkan ia dengan mudah mengakses masuk ke dalam sebuah rapat ataupun kegiatan pembelajaran tanpa izin.

Kepala Unit Teknologi Informasi Poltekkes Kemenkes Makassar (Kanit IT Polkesmas), Perie Bagoes Handoko, S. Kom, M. T memberikan dua langkah mudah terhindar dari Zoombombing. Ia mengungkapkan, dua pilihan pengaturan yang dapat diaktifkan oleh host ialah enable waiting room dan only authenticated users can join.

“Opsi pertama ini untuk menahan semua peserta di ruang tunggu (waiting room) sampai host mengizinkan. Jadi, opsi ini kendalinya ada pada user yang berperan sebagai host. Opsi kedua ini memaksa user agar dirinya login ke Zoom terlebih dahulu sebelum join,” bebernya, Rabu (22/04).

Sebelumnya, Zoombombing juga telah dialami mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar (Polkesmas). Akun dengan nama pengguna berbahasa asing serta menggunakan profil wajah bertopeng, secara tiba-tiba muncul di tengah proses belajar mengajar.

Hal itu diungkapkan salah satu mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan, Muriadi. Ia tak menampik penggunaan aplikasi Zoom efektif sebagai media pembelajaran, tetapi kemungkinan terjadinya Zoombombing membuat Muriadi merasa khawatir ketika memakai Zoom.

“Pembelajaran memang efektif untuk tatap muka dengan menggunakan aplikasi Zoom, tapi memiliki kekurangan dari sistem aplikasi Zoom, mahasiswa jadi waswas menggunakan Zoom,” ujarnya.

Maraknya peretasan yang terjadi di aplikasi Zoom, membuat beberapa Perguruan Tinggi mengeluarkan kebijakan pelarangan menggunakan aplikasi Zoom. Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak Polkesmas belum menunjukkan kemungkinan pelarangan penggunaan aplikasi tersebut.

*Reporter : Kru-M11