Aksi Solidaritas Makassar Bersama Suara USU

oleh -
Aksi: Seruan Aksi Solidaritas Sejumlah Organisasi Mahasiswa Makassar Mengecam Rektor USU Atas Pembubaran LPM Suara USU, Jl. Urip Sumoharjo Makassar, Rabu (21/08).

MAKASSAR, INTELLIGENT – Rabu, 21 Agustus 2019, Bertepatan dengan sidang kedua gugatan Suara USU yang berlangsung di PTUN. Sejumlah organisasi yang tergabung dalam Solidaritas Makassar Bersama Suara USU kembali menggelar aksi di jalan raya depan kampus Universitas Muslim Indonesia, Jl. Urip Sumoharjo, Makassar.

Diketahui aksi ini berlangsung pukul 13:40 hingga dengan puluhan jumlah massa aksi. Varian aksinya yakni penyampaian orasi politik, pembacaan puisi, pembagian selebaran, dan pembentangan spanduk serta pataka-pataka.

Menurut penjelasan dari jendlap aksi, ia mengatakan bahwa aksi yang digelar ini bertujuan sebagai wujud dukungan baik secara organisasi dan individu di Makassar kepada Suara USU yang saat ini masih terus berjuang untuk mengembalikan SK Kepengurusannya.

“Ini bentuk komitmen kami kepada Suara USU yang mendapat perlakuan diskriminasi oleh Rektornya Runtung Sitepu,” jelas Def sapaan akrabnya.

Def menilai tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh Runtung Sitepu sangatlah tidak bisa dibenarkan. Olehnya itu, Def menghimbau kepada seluruh publik agar tetap memantau jalannya proses sidang gugatan Suara USU.

“Sangat bertentangan dengan prinsip dasar penyelenggaran pendidikan tinggi, jadi partisipasi publik sangatlah penting agar proses hukum gugatan Suara USU berjalan sesuai fakta hukum yang terungkap dalam persidangan,” tegasnya.

Lebih jauh, menyoroti peranan kampus sebagai wadah pendidikan pengembangan nalar kritis telah gagal melahirkan manusia yang demokratis dan humanis. Menurutnya, watak birokrasi kampus yang fasis dan anti dialog menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tumbuh suburnya budaya intoleran yang saat ini marak terjadi di Indonesia.

“Di kampus saja terjadi praktek-praktek anti demokrasi hingga diskriminasi, maka jangan heran hal serupa juga terjadi di rana sosial, misalnya rasialisme terhadap rakyat papua oleh TNI-Polri dan Ormas Reaksioner,” jelas Def.

Parle, selaku humas aksi mengatakan saat ini marak terjadi pembungkaman demokrasi dibeberapa kampus. Menurutnya, masalah watak kampus saat ini semakin anti demokrasi. Buntutnya mahasiswa menjadi korban dengan pembatasan ruang yang terjadi dibeberapa kampus di Indonesia.

“Jelas dalam UUD 1945, pasal 28E ayat (3), tapi fakta kebijakan yang terjadi di kampus-kampus banyak yang mengabaikan ini demi citra kampus yang baik dan mahasiswa menjadi tumbalnya”, ujar Parle.

Parle juga memaparkan terkait peranan pers mahasiswa sebagai corong informasi bagi mahasiswa sangat rentan mendapatkan perlakuan intimidasi oleh pihak kampus. Mulai dari pembekuan lembaga hingga kasus pemukulan terhadap jurnalis pers mahasiswa yang akhir-akhir ini marak terjadi.

“Beberapa bulan lalu kita dikejutkan kasus pemukulan yang dialami jurnalis persma Profesi UNM Makassar oleh rektornya, dan pada 20 Agustus kemarin juga terjadi pemukulan persma (Faisal Saidi) oleh IH yang diduga terlibat dalam kasus pungli bersama pihak kampus yang sedang disoroti LPM Himanika IAIN Gorontalo,” bebernya.

Diketahui juga kabar terbaru dari 8 Ormawa Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (PPNP) yang tidak mendapatkan SK kepengurusan karena menolak Peraturan Direktur (PD) Ormawa, pihak kampus memasang spanduk besar yang berisikan himbauan kepada mahasiswa baru untuk tidak mengikuti kegiatan Lembaga mahasiswa yang cap ilegal. Sementara itu, di Universitas Hasanuddin Makassar, 3 Lema telah diberikan SK pembekuan secara tertulis dan 2 Lema secara lisan dikarenakan sikap lembaga yang menolak Peraturan Rektor (PR) Ormawa.

Menyikapi persoalan ini, Parle menghimbau kepada seluruh mahasiswa agar membangun konsolidasi besar-besaran dan membuat simpul penyatuan gerakan merespon gejala kampus yang saat ini semakin anti demokrasi.

“Teriakan-teriakan protes mahasiswa perlu digaungkan kembali di setiap kampus, ini sangat penting untuk dijadikan sebagai pembahasan prioritas mengenai permasalahan yang dialami mahasiswa,” tutupnya.

Sebelum massa aksi membubarkan diri pukul 14:56, seluruh massa aksi membacakan pernyataan sikapnya dan menyanyikan lagu mars mahasiswa yang dipimpin langsung oleh jendral lapangan.

 

 

 

*Reporter: Kru-PPMI