Terimah kasih Ibu

oleh
Terima Kasih Ibu/pixabay.com

Oleh :Nurul Jirana – Jurusan Kebidanan 2016

18 Tahun telah berlalu bukanlah hal yang mudah bagiku.

Pada saat mentari berbinar-binar. Seorang ibu merintih kesakitan, disana, di tempat yang penuh sejarah berjuang melawan rasa sakit.


Sakit. Sakit.


Bagai tertusuk ribuan pedang.

Bertarung, Entah akan hidup atau mati.
Akhir perjuangan itu, keringat mengguyur seluruh tubuhnya. Karena rasa sakit yang tak tertahan.
Ibu mutiara hatiku.

Sanggupkah aku menghapus cucuran keringat dan air matamu itu. 

Saat ini tak satupun yang mampu kulakukan untukmu.
Seakan tidak ada jawaban untuk setiap pertanyaan.

Aku selalu berfikir bisa melangkah kedepan.

Tapi tidak.
Itu semua tidak bisa terjadi tanpamu, tanpa dukunganmu, dan tanpa doa mu.

Semua masalahku, solusinya hanya satu. Yaitu ibu.

Ibu tak ada tempat yang damai selain belai kasih lembutmu itu.
Ibu terimakasih telah menjadi inspirasiku untuk terus bangkit.

Dan hal itu akan selalu membuatku rindu saat aku jauh darimu.

Tak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu ibu.

Seringkali tuturku menyakitimu.

Sungguh hina diri ini karena belum mampu melukis istana diatas bukit yang menari itu.

Tapi satu janjiku, akan ku bawa kau terbang ke istana sana.

Istana yang begitu indah yang menjadi idaman semua orang.

Selamat Hari Ibu.