Polkesmas Adakan Evaluasi, Mahasiswa Harap Perbaikan Kuliah Daring

oleh -
Ilustrasi pembelajaran daring (Foto : Kompidroid.com)

MAKASSAR, INTELLIGENT – Surat edaran Poltekkes Kemenkes Makassar (Polkesmas) yang ditetapkan pada tanggal 27 Maret 2020, berisi beberapa ketentuan keputusan, salah satunya pengadaan monitoring dan evaluasi terkait proses pembelajaran daring setiap dua minggu.

Hal tersebut disambut baik sejumlah mahasiswa, sebab  sejak kuliah daring diberlakukan Poltekkes Kemenkes Makassar, tak sedikit mahasiswa yang mengeluhkan proses pembelajaran daring yang dinilai tidak efektif.

Salah satu mahasiswa D.IV Jurusan Fisioterapi, Andi Muhammad Alif Haikal B ikut mengeluh perihal tersebut. Ia mengharapkan proses belajar mengajar (PBM) melalui metode daring yang kini berjalan tidak semestinya bisa diperbaiki oleh pihak Polkesmas.

“Proses pembelajaran yang menurut saya berubah menjadi proses pemberian tugas dan parahnya nyaris setiap memberikan tenggat waktu yang lumayan singkat, jadi harapan saya mohon dikaji ulang mengenai pbm ini,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan salah satu mahasiswa Jurusan Analis Kesehatan, Annisa Syafri. Ia berharap Ketua Jurusan (Kajur) dapat memonitoring dan mengevaluasi kinerja para dosen terkait pemberian mata kuliah lewat pembelajaran daring.

“Harapan saya mengenai evaluasi ini, Kajur dapat mengontrol dosen-dosen mata kuliah, apakah masuk atau tidak, memberikan mata kuliah sesuai jadwalnya atau tidak, atau hanya memberikan tugas,” ungkapnya, Sabtu (28/03).

Sesuai surat edaran Polkesmas, monitoring dan evaluasi akan dilakukan oleh Ketua Jurusan dan Ketua Program Studi (Prodi) Parepare untuk kemudian memberikan masukan terkait proses pembelajaran daring berdasarkan perkembangan dan kondisi di lapangan.

Ketua Jurusan Kebidanan, Hj. Suriani B, SKM, MSc mengatakan, selain monitoring dan evaluasi kondisi kesehatan sivitas akademika, keluhan mahasiswa terkait pembelajaran daring juga ikut dipertimbangkan pihak Jurusan.

“Iya begitu, nah sebenarnya dari sisi kurang efektifnya apanya, kita juga harus liat juga datanya, identifikasi data pendukungnya, dianggap tidak efektif dari sisi mananya aspek apa yang kurang efektifnya,” tuturnya.

*Reporter : Kru-M52