Latih Skill Jurnalis Peserta, DJMTD Kembali Kenalkan Teknik Reportase dan Wawancara

oleh -
Pemberian materi ketiga "Teknik Reportase dan Wawancara" oleh Didit Hariyadi (06/11)

MAKASSAR, INTELLIGENT – Pemberian materi ketiga pada Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar (DJMTD) kembali mengangkat mengenai teknik reportasi dan wawancara bagi peserta.

Materi yang dibawakan oleh salah satu pemateri dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini mengenalkan mengenai cara cara untuk melakukan wawancara dan reportasi dalam lingkup jurnalistik

Didit Hariyadi, selaku anggota dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang menjadi pemateri pada kegiatan ini mengatakan bahwa dalam teknik reportase dan wawancara seorang jurnalis yang profesional itu harus mengetahui isu yang akan diberitakan.

“Seorang jurnalis yang profesional itu harus mengetahui atau menguasai isu apa yang akan diangkat sebelum turun ke lapangan. Kemudian kita melakukan proses wawancara, kemudian melakukan penulisan, sebelum melakukan penyajian. Itu hal-hal terpenting yang harus dilakukan seorang jurnalis”, ujarnya saat diwawancarai.

Ia pun menambhakan bahwa terkadang hambatan seorang jurnalis adalah keterlambatan waktu jurnalis dalam mengobservasi informasi dilapangan hingga berdampak pada sudut pandang penulisan.

“misalnya kalau di polisi kasus pembunuhan itu akan beda ketika wartawan observasi dengan wartawan kepolisian karena sudut pandang mereka berbeda- beda itu yang terpenting,” Ujarnya

Selain itu ia mengatakan bahwa jurnalis harus memiliki skill untuk menyakinkan narasumber untuk diwawancarai walau terkadang pada beberapa kasus banyak yang menolak.

“wartawan itu bukan sekedar profesi saja, dia harus memiliki skill jadi bagaimana caranya wartawan meyakinkan narasumber untuk melakukan wawancara, tapi mau tidak mau kalau menolak dan segala jalur sudah ditempuh entah itu melalui telepon, sms, menyurat, yah kita sudah berusaha maksimal tinggal ditulis untuk menolak wawancaranya,”

Ia juga berharap bahwa teman-teman lembaga pers dapat bersikap lebih skeptis dan kritis dalam menyajikan berita yang dilihat di lapangan.

“Saya berharap teman-teman dari lembaga pers itu lebih skeptis. Ketika kita tidak menyajikan berita yang kritis yang sesuai dengan apa yang didapatkan di lapangan, otomatis kualitas suatu jurnalis akan dipertanyakan”, harapnya

*Reporter: Kru M-28