B.J Habibie, Putra Terbaik Bangsa Dari Sulawesi Selatan

oleh -
Presiden ke-3 RI, B.J Habibie saat menghadiri Pembukaan Silaturahmi Kerja Nasional 2017 di Istana Kepresidenan Bogor (Foto: Antara)

MAKASSAR, INTELLIGENT – Indonesia kini dirundung duka. Tangisan dan rasa sedih menyelimuti negeri ini.

Bagaimana tidak, negeri ini harus merelakan kepergian putra terbaiknya. Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih dikenal dengan B.J Habibie tutup usia di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta pada Rabu malam, 11 September 2019.

Habibie meninggal dunia  dikarenakan penyakit yang dideritanya, yang sebelumnya telah menjalani perawatan intensif sejak 1 September 2019.

B.J Habibie merupakan anak keturunan Bugis -Jawa. Anak dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo.

Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. B.J Habibie berasal dari keluarga terhormat dan terpelajar.

Ayah Habibie berprofesi sebagai ahli pertanian, sementara ibunya merupakan anak seorang dokter spesialis mata di Jogjakarta, dan kakek beliau merupakan ulama Islam yang terkenal. 

Pada tanggal 25 Juni 1936, Habibie kecil dilahirkan di salah satu kota di Sulawesi Selatan, yaitu  Parepare yang terletak diantara laut dan pegunungan tinggi.

Kota Parepare merupakan tempat tinggal Habibie semasa kecil. Tentunya sangat banyak kenangan Habibie muda saat berada di kota tersebut.

Sederet prestasi yang telah diraih oleh Habibie diantaranya adalah meraih gelar doktor di Jerman, menbuat pesawat, penemu teori kedirgantaraan, menjabat sebagai presiden direktur PT IPTN, menjabat sebagia menteri riset dan teknologi, hingga berhasil menyabet berbagai penghargaan nasional maupun internasional. 

Tak hanya prestasi dan karya BJ Habibie saja yang dikenang oleh masyarakat. Kisah cinta Habibie kepada istrinya juga sangat dikagumi.

Kisah cinta BJ Habibie dan sang istri bahkan diangkat menjadi film layar lebar dengan judul “Habibie & Ainun”.

Dahulu Ainun dikenal populer dikalangan laki-laki, hingga ia melabuhkan hatinya kepada Habibie yang memang sudah ia kenal sejak Habibie masih remaja.

Ainun resmi menjadi istri BJ Habibie pada tanggal 12 Mei 1962. Mereka dikaruniai dua orang putra yakni, Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Perjalanan cinta keduanya begitu menginspirasi. Banyak cinta dan kasih sayang yang dibubuhkan keduanya. Habibie dikenal sebagai suami yang setia dan penuh cinta.

Namun kisah cinta Ainun Habibie yang bahagia sempat dirundung kesedihan. Pada tahun 2010 Ainun didiagnosis mengidap kanker ovarium.

Walau sedih BJ Habibie tidak berhenti untuk mendampingi dan menyayangi sang istri. Ia selalu menemani sang istri hingga Ainun menutup usia pada tanggal 22 Mei 2010.

BJ Habibie diketahui selalu mengunjungi makam sang istri untuk berziarah. Ia tidak pernah melupakan sosok Ainun yang selalu menemani setiap perjalanan hidupnya.

Pemerintah daerah Parepare sangat mengapresiasi sosok Habibie sebagai tokoh kebanggaan yang telah mengharumkan nama Parepare.

Bentuk apresiasi kepada Habibie diwujudkan dalam beberapa kebijakan pemerintah, diantaranya: pembangunan Monumen Cinta Ainun Habibie, pembangunan Rumah Sakit Daerah Ainun Habibie, penggunaan nama B.J. Habibie sebagai nama ruas jalan protokol, dan Usulan Pendirian Institut Teknologi Habibie.

Apresiasi dan rasa hormat tak henti-hentinya diberikan kepada beliau. Semua ini karena jasa-jasa, perjuangan, dan kebaikan BJ Habibie yang sangatlah cerdas dan kreatif yang selalu memberikan kontribusi kepada negaranya sejak beliau masih muda hingga sebelum tutup usia.

Jasa dan sumbangsih BJ Habibie sangatlah dirasakan. Tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia ikut merasakan hasil dari jerih payah dan perjuangan dari BJ Habibie.

Penemuan-penemuan hebatnya dalam dunia teknologi khususnya pesawat sangatlah terkenal dan sangat dibanggakan.

Sebelum wafat, BJ Habibie sempat mengungkapkan keinginannya untuk generasi penerus bangsa saat ini agar bisa lebih baik dari dirinya.

“Saya hidup yang penting dalam kehidupan saya bisa membantu agar supaya generasi penerus itu lebih baik dari saya. Kalau itu lebih baik itu upaya yang lebih baik, sehingga kalau saya menutup mata saya untuk selama-lamanya di dunia ini daya bisa dengan suatu senyuman bagi generasi penerus lebih baik” –B.J Habibie–

 

 

 

 

*Reporter: Kru-M20