Akan Usai

oleh -
(Foto : Pinterest.com)

Tubuh seorang wanita paruh baya tumbang seketika bagai pohon yang terhempas badai, ia menahan sakit dan perihnya sembari meringis memegang perutnya. Ia rasakan bagai ribuan anak panah yang baru saja menghantamnya hingga akhirnya menumbangkan jiwa dan raga yang ia miliki. Pertama kalinya, wanita perkasa yang berjiwa pahlawan dan setangguh baja lemah lunglai dihadapanku.

Dia adalah bidadari yang kasat mata, semua penduduk bumi mampu melihatnya, tetapi hanya sebagian dan akulah salah satu orang yang paling beruntung karena telah merasakan kasih dan sayangnya yang tulus dan selembut awan dilangit.

Ini adalah peristiwa delapan tahun lalu, ketika kanker kista memborbardir tubuhnya. Menyedihkan? Sudah pasti. Bahkan orang terkuat siapapun tidak akan sanggup menyaksikan bidadarinya menjadi lemah.

Kadangkala dia bisa menjadi Dokter yang merawatku ketika aku sakit, kadang dia juga bisa menjadi Guru disaat aku tidak tahu-menahu, juga bisa menjadi koki terhebat ketika lambung dan nafsu menginginkan makan ini dan itu, bahkan juga bisa menjadi seorang teman sekaligus sahabat yang selalu ada dua puluh empat jam nonstop untuk mendengarkan celoteh curhatanku. Dan kenyataannya dia adalah ibuku sang bidadari yang kasat mata. Ah! Durhakanya aku.

Tak ada tanda ataupun kode bahwa ia akan mengidap penyakit mematikan itu. Mataku kini telah tergenang air yang sudah tak dapat terbendung lagi. Melihatnya benar-benar tak berdaya. Tepat umurku yang ke sembilan tahun peristiwa itu terjadi. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan menghadapi peristiwa bagai letusan bom itu, dan bahkan ketika hanya aku dan kedua adikku yang menyaksikan sang bidadari dalam ketidakberdayaannya.

Sudah menjadi kebiasaan, ayah tidak berada dirumah. Jika tidak di luar kota ataupun di luar dari negeri antah-berantah ini. Ini lebih menyedihkan dan menyulitkanku. Lantas apa yang kulakukan? Ialah meneriaki tetangga meminta tolong sembari berharap ada yang peduli. Syukurlah, ada manusia berhati malaikat yang datang menolong sang bidadari. Jika tidak? Entah apa yang kan terjadi. Sungguh takkan bisa kubayangkan.

Sebelumnya, ibu tidak tahu bahwa ada penyakit tersebut yang bersarang di tubuhnya. Serangan itu datang secara tiba-tiba tanpa memberi salam ataupun sapaan singkat. Setelah pulang dari dokter, syukurlah ibu sudah lebih baik dari sebelumnya. Mungkin saja di sana sang dokter telah memberinya penghilang rasa sakit walau hanya untuk sementara. Walau wajahnya masih dalam keadaan pucat pasi. Membuat siapa saja yang melihat dirinya akan merasa kasihan. Entah apa yang terjadi saat di rumah sakit, aku harus menjaga kedua adikku yang mengharuskanku tetap berada di rumah

Sang bidadari kini beristirahat. Mungkin saja reaksi obat-obatan yang ia minum memberikan efek kantuk. Aku selalu terjaga disampingnya, bersama kedua adikku. Mungkin saja ibu terbangun dan membutuhkan sesuatu.

Aku membuka sebuah map yang dibawa ibu dari rumah sakit. Sepertinya itu adalah hasil pemeriksaan dokter. Aku tahu, sebab dibagian depan map tersebut terdapat logo rumah sakit. Di halaman awal terdapat selembar foto hasil x-ray yang dijepit menggunakan paper clip sehingga menyatu dengan map. Di halaman kedua barulah tertera hasil pemeriksaan dari dokter. Aku membacanya, walau ada kalimat yang sulit dicerna oleh otak seorang anak berusia 9 tahun serta angka-angka yang tak tahu apa maknanya. Tetapi aku paham bahwa apapun yang tercantum di atas kertas pemeriksaan tersebut pastilah hal yang serius.

Kista berukuran tujuh centimeter, mengharuskan dirinya menjalani operasi. Lantas dimana ayah? Aku tak memikirkan itu lagi, yang ada di benakku hanyalah bagaimana cara agar aku dan kedua adikku tidak menyulitkan. Saat dimana aku dituntut untuk menjadi seorang yang mandiri dan aku harus memahami pekerjaan ayah walau akhirnya ayah juga yang akan khawatir.

Aku menangis sejadinya. Di dalam kamar. Sendiri. Apapun itu, ini adalah hal tersulit disaat usiaku 9 tahun. Lebih sulit dari tugas matematika yang diberikan guru di sekolah. Air mata yang mengalir deras bagai air terjun. Mencoba menangis tak bersuara, agar ibu tak terganggu di sebelah kamarku. Berusaha menjadi sosok yang tegar disaat sendiri adalah hal yang sulit, tetapi ternyata ibu sanggup melakukannya. Sekali lagi aku menangkupkan kedua tanganku di atas wajahku yang dibanjiri air mata.

Tanpa kusadari, ternyata sedari tadi ibu berdiri di ambang pintu menatapku lamat-lamat. Matanya berkaca-kaca. Dia masuk menghampiriku dan langsung memelukku lembut sembari memberikan belaian lembut dikepalaku.

“Kenapa menangis?” tanyanya lembut. Benar-benar lembut. “Apa ibu kuat?” aku balik bertanya. “Tentu saja, karena ada dua peri dan seorang pangeran yang selalu bersama ibu. Lantas apa yang harus membuat ibu lemah?” ucapnya, membuat air mataku mengalir semakin deras. “Ibu jangan pernah tinggalkan kami,” ucapku dengan suara yang parau akibat tangis. Aku semakin mengeratkan pelukanku. “Fisik ini bukanlah sepenuhnya milik kita anakku. Mungkin saja Tuhan akan memintanya kembali, tetapi Tuhan menciptakan hati untuk menjadi kuat serta hidup mengajarkan kita untuk menjadi ikhlas. Apapun yang terjadi,” ucap ibu dengan seutas senyuman lembut dan sepertinya air matanya juga mulai tak terbendung. “Apa ayah sudah tahu?” tanyaku lalu melepaskan pelukan. Ibu lantas mengangguk, pertanda mengiyakan pertanyaanku. “Lalu?” tanyaku lagi. “Ibu harus menjalani perawatan khusus, agar cepat sembuh,” sekali lagi semburat senyuman yang ia berikan meneduhkan hati, walau sebenarnya ada keinginannya agar ayah pulang saat itu juga. “Bagaimana dengan operasi?” sudah tak asing lagi kata itu dalam pikiranku, sebab sebelumnya sudah ada beberapa kerabat ibu yang telah melakukannya dan sebagian itulah berdampak fatal. “Ayahmu sudah memberikan keputusannya agar ibu melakukannya,”. “Lantas kenapa ia tak pulang, apa dia tak mengkhawatirkan ibu?” tangisanku pecah seketika. “Dia masih dalam keadaan terikat oleh kontrak kerja, nak. Jika tidak, sudah pasti dia disini bersama kita.” ucapannya menenangkanku, agar tak berpikir negatif mengenai ayahku.

Ibu. Tak sedikitpun ia pelihara sebuah kekesalan. Selama ini hanyalah keceriaan yang selalu ia berikan kepadaku. Walau sebenarnya terdapat titik terapuh dalam dirinya.

Seminggu telah berlalu. Ibu belum memberikan keputusan terhadap pihak rumah sakit untuk menjalani operasi. Sebab, jalan itu tidak sepenuhnya membuahkan hasil selamat bagi orang yang menjalaninya. Namun, jika tak dilakukan maka akan berdampak sangat menyakitkan bersarang di tubuhnya yang akan berkembang menjadi tumor ganas. Sungguh tak bisa kubayangkan. Sekali lagi!

Kabar tentang penyakit sang bidadari sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Bahkan sudah sampai ke telinga orang tua angkat ibu. Ibu adalah seorang yatim piatu. Dia hanya memiliki kelima saudaranya. Pun, mereka semua juga telah berkeluarga. Ibu bukanlah orang yang mudah menyusahkan orang lain. Segalanya ditanggung sendiri olehnya.

Sampai pada akhirnya orang tua angkat ibu yang berada di Palopo meminta ibu agar menjalani pengobatan di sana. Alasannya, ialah operasi bukanlah jalan keluar dari penyakit ibu. Sebab jika operasi telah dilakukan maka dampaknya ialah akan membekas dan bekas itulah yang akan berkembang menjadi tumor yang statusnya mendekati mustahil untuk sembuh. Hipotesis tersebut benar terbukti, terhadap kerabat jauh ibu yang harus ikhlas meninggalkan kedua anaknya karena awal mula dari penyakit tersebut, dan mungkin hal itu yang dihindari oleh ibu. Mengingat usia kami bertiga yang masih sangat kecil untuk menjadi yatim. Sungguh! Untuk kesekian kalinya tak bisa kubayangkan

Sedikit lega bahwa ibu tidak menjalani operasi tersebut, tetapi satu hal yang membuatku merasa sedih. Bahwa itu artinya ibu harus berada di Palopo selama pengobatannya berlangsung. Sudah pasti pengobatannya akan berlangsung lama. Segalanya telah dipersiapkan olehnya. Mulai dari pakaian yang harus dipersiapkannya untuk menetap sementara waktu di sana. Ibu hanya membawa adik bungsuku dan meminta bibi agar tinggal di rumah bersamaku dan satu adikku.

Disana ibu didampingi oleh berbagai macam obat-obatan tradisioanl, dari berbagai bahan dasar tumbuhan yang sudah tak ku ingat apa saja namanya, aku hanya mengingat satu diantaranya, ialah kunyit putih. Disitulah awal mula aku tahu bahwa kunyit tidak saja kuning tetapi juga ada yang putih. Dibanding dengan ibu harus mengenyam pahitnya obat-obatan kimia yang diberikan dokter, aku lebih suka ibu di sana. Setidaknya dia benar-benar bisa beristirahat di masa pemulihannya. Walau kadang aku masih mendengar jeritan sakit ibu melalui telepon.

Alasan aku dan satu adikku tak ikut, tak lain dan tak bukan ialah karena kewajiban kami sebagai seorang siswa. Waktu itu aku duduk dibangku kelas 3 SD dan adikku dibangku TK. Setiap pulang sekolah aku harus menjemput adikku di taman kanak-kanak yang arahnya berlawanan dari sekolahku. Tapi itu sudah tak kupikirkan lagi. Aku harus belajar untuk hidup mandiri. Setelah berganti pakaian, makan siang, dan salat, kami meminjam ponsel bibi untuk menelepon ibu di seberang sana.

Tiada hari yang kulewati tanpa menelepon ibu. Setiap kata yang terucap dari bibirnya, suaranya akan memecahkan tangisku. Walau ia tak tahu. Untuk pertama kalinya, dalam hidupku aku dipisahkan oleh waktu dan jarak yang panjang dengannya. Lain halnya dengan ayah, kami memang sudah terbiasa tanpa kehadirannya karena harus bekerja.Tapi ibu selalu mengingatkan kami bahwa sejauh apapun kaki ayah melangkah dia akan tetap berada di hati kami. Kapanpun dan dimanapun.

Benar-benar masa yang sulit. Dimana guncangan demi guncangan mengalahkan letusan bom di Nagasaki dan Hirosima. Aku hanya berusaha untuk bersabar, hanya itu yang dapat kulakukan. Sembari menanti ibu sembuh dan kembali ke rumah. Setiap hari kecemasan menghantuiku dan membayangkan segala hal yang sekiranya akan terjadi jika pengobatan ibu tak berhasil. Sekali lagi, ibu pernah menasehati kami bahwa keyakinan kita terhadap Tuhan akan berpengaruh terhadap apa yang kita inginkan. Aku selalu yakin bahwa ibu akan sembuh. Aku tak butuh apapun selain ibuku. Aku ingin dia sembuh. Tanpanya benar-benar ada sesuatu yang besar yang lenyap ditelan bumi.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan. Satu bulan telah kulewati tanpa kehadiran ibu di sisi kami. Walau setiap hari berbicara via telepon, tetapi akan terasa beda jika bertemu langsung. Satu minggu berikutnya ibu tidak akan menelfon kami lagi. Alasannya karena kami harus belajar untuk ujian semester nanti. Tepat di bulan Desember. Musim hujan.

Ujian sementara berjalan. Hari libur yang dinantikan para pelajar sudah di depan mata. Tapi bukan hal itu yang kunantikan. Aku ingin ibuku pulang sebelum liburan tiba. Saat hari terakhir ujian pulang sekolah seperti biasa aku menelepon ibuku lagi, untuk yang pertama kalinya setelah berjanji bahwa aku tak akan menelepon ibu selama ujian berlangsung. Kudengar kabar ibu sudah lebih baik dari sebelumnya. Kista yang bersarang di tubuhnya kini telah hancur tanpa meninggalkan bekas, lalu keluar melalui saluran kencingnya. Sakit? Sudah pasti. Tapi sekali lagi kukatakan ibu tidak mudah menyusahkan orang lain. Mungkin saat ini ia merasakan sakit yang mengancamnya untuk menyerah. Tapi ibu tetap kuat demi kami. Sampai pada akhirnya, berita bahwa rahim ibu telah bersih oleh kista tersebut. Aku menangis untuk kesekian kalinya. Bedanya, kali ini adalah tangisan haru.

Keyakinanku benar adanya. Sudah menjadi bukti yang nyata atas segala perkataan ibu. Bahwa ia akan sembuh. Benar-benar sembuh. Hanya membutuhkan satu minggu lagi untuk masa pemulihannya beristirahat agar divonis benar-benar sembuh oleh kakek, orang tua angkat ibu, yang notabenenya memang ia adalah seorang yang bekerja di dinas kesehatan selama beberapa tahun belakangan ini.

Satu minggu berikutnya aku sudah mendapat kabar bahwa kini ibu telah bersiap-siap pulang. Kembali ke rumah, bersama kami. Hari libur yang kunantikan yang disertai dengan kedatangan ibu yang kurang lebih hampir 2 bulan kunantikan. Ibu sembuh, sebuah keajaiban besar untuk wanita yang berhati besar.

Tugas bibi untuk menjagaku telah usai, dia kembali ke kampung halamannya. Sehari sebelum ibu kembali ke rumah aku telah melakukan pembersihan bersama adikku. Aku tak ingin jika ibu pulang harus mengerjakan ini dan itu. Inginku, setelah ibu pulang tak akan ada pekerjaan besar yang menantinya. Selama kurang lebih dua bulan ini aku telah belajar untuk hidup mandiri.

“Ibu pulang!” teriak adikku dari teras rumah. Sesegera mungkin aku menjemput ibu di halaman depan. Pelukanku mendarat ke tubuhnya. Menandakan perasaan senangku atas kesembuhannya. Tak akan kubiarkan siapapun dan apapun menyakitinya lagi selain dari kehendak Tuhan yang tak dapat kuganggu gugat. Tak akan kusia-siakan kesempatan agar dia menjadi seorang bidadari terbahagia yang pernah ada. Aku mencintainya. Berlian dari manapun tak akan mengalahkan keindahannya. Dia benar-benar seorang bidadari yang nyata di pelupuk mata. Tak akan kubiarkan hati serta fisiknya tergores walau segaris. Aku bersumpah siapapun mereka tidak akan ada yang dapat menyakitinya.

Namun dan ternyata. Penderitaannya tak berhenti pada waktu itu. Aku baru tahu setelah delapan tahun berikutnya. Sekarang umurku yang ke tujuh belas tahun. Berbeda halnya dengan delapan tahun lalu, yang dimana harus menerima kenyataan bahwa terdapat penyakit mematikan yang bersarang di tubuh ibu. Delapan tahun berikutnya aku mengetahui sebuah kebenaran. Yang aku pun tak ingin mengakuinya sebagai sebuah kebenaran. Sangat menyedihkan. Sungguh sangat!

Tapi sekarang, di kota ini, langit sepertinya mendukung kesedihannku dengan tumpahan derasnya hujan membasahi bumi, tapi tak pernah lelah walau telah berkali-kali jatuh. Aku ingin mengusaikan segalanya. Tanpa meninggalkan bekas di hati ibuku. Aku mencintainya sangat mencintainya dan akan terus mencintainya. Cerita yang takkan pernah usai. Cukup hanya aku dan Tuhan saja yang tahu. Kalian tak usah!

Karya : Nurul Fadilah Salama – Jurusan Fisioterapi 2019