Menjadi dewasa adalah impian setiap remaja. Menjadi bebas, tidak dikekang, hidup dengan ke inginannya sendiri, melakukan apa yang dia mau. Itulah ucapan yang terdengar pada setiap lisan teman-teman ku. Tapi berbeda dengan salah satu ucapan orang dewasa yang pernah ku temui “hidup dewasa itu tidak semenyenangkan yang kau kira. Lebih menyenangkan menjadi anak-anak saja berlarian dan bermain tanpa beban. Dan itulah hidup, kadang naik, kadang turun. Tapi Allah itu baik”. Saat usiaku masih 15 tahun kala itu.
Seiring berjalannya waktu, tak terasa sedikit demi sedikit aku mulai paham dengan keadaan yang berada disekitar ku. Sampai ada situasi dimana aku menemukan titik temu.
***
Perkenalkan nama ku Aisyah Candra Lukas biasa di panggil Ai oleh teman-teman sekolah ku. Umur ku sudah menginjak 17 tahun atau setara dengan kelas 2 SMA. Aku bersekolah di sebuah Pesantren yang terletak di Kabupaten Takalar.
Di pondok kami terdapat bangunan induk berlantai dua. Dilantai satu memiliki empat ruang induk khusus para kyai dan ustadz-ustadz yang siap membagikan ilmunya pada kami. Sedangkan dibagian lantai dua adalah ruang kelas khusus SMP dan MTS. Bangunan induk itu diapit oleh kelas-kelas para santri yang memanjang disebelah kiri, kanan, dan belakang. Diantara gedung tengah dan deretan kelas-kelas, tergelar halaman lebar. Disana terdapat lapangan volly, lapangan takraw, warung, serta ruang olahraga khusus badminton dan tenis meja.
Matahari sudah mulai naik sejajar dengan kepala kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.30. Sebentar lagi pelajaran al-quran dan hadist akan dimulai. Ilmu itu di bawakan oleh seorang ustadz bernama ustadz Dahlan. Dia sendiri mewakili keantikan yang berumur lebih dari 40 tahun. Badannya mungil, besar dan lebar. Beliau sangat ramah kepada kami. Jadi jangan heran kalau kami begitu akrab dengan beliau.
Sembari menunggu kedatangan ustadz, Seluruh sisi ruang kelas dipenuhi dengan suara lantunan ayat al-quran dan hadist teman sekelas ku yang akan disetorkan. Mereka semua sangat bersemangat menghafalkan bait demi bait yang begitu sulit untuk diingat termasuk pula dengan diriku pribadi.
Entah mengapa untuk mengingat satu ayat saja sangat sulit bagi diri ku. Berbeda dengan teman-teman ku yang lain cukup mengulang 5 kali saja dia sudah ingat.
Ustadz Dahlan berjalan menuju kelas ku yang berada di posisi Utara bersebelahan dengan lab komputer dan berdekatan dengan Madrasah Ibtida’iyah disebelah kanan dan masjid di sebelah kiri.
“Kawan ustadz sudah menuju kesini” ujar ku yang mulai memecah kebisingan sembari berjalan kearah bangku ku.
Suara yang bising berubah menjadi hening tak bersuara terdengar suara teriakan dari arah belakang ku “pertama menyetorkan hafalan” yang lain bersautan melanjutkan kedua, ketiga dan seterusnya sedangkan aku mendapatkan antrian ke-5.
Sesampai di kelas ustadz langsung membuka pelajaran “baik anak-anak hari ini adalah pertemuan pertama kita tatap muka dikelas 2 pada mata pelajaran qur’an hadist dan mata pelajaran ulumul hadist. Seperti biasa pada mata pelajaran saya ada kategori bebas semester untuk mata pelajaran qur’an hadist yaitu menyelesaikan hafalan yang ada dibuku persemesternya sebelum ujian semeter dilaksanakan sedangkan pada mata pelajran ulumul hadist yaitu persemsternya dapat menyetorkan hafalan 50 hadist persemester” ujar ustadz Dahlan sembari meminta siapa yang ingin menyetorkan hafalan.
Sampailah nomor antrianku tiba. Mendengar hafalanku yang terbata-bata dan masih banyak bagian yang kulupakan “Ai mengapa hafalan mu seperti ini? Belum terlalu lancar. Turun dulu lalu hafalkan lagi hingga lancar”. Ustadz menghentikan hafalanku di pertengahan dan menyuruhku untuk turun menghafal lebih serius dan sunguh-sungguh.
Aku turun dengan rasa kecewa dan merasa heran mengapa hafalan ku memburuk, tidak seperti biasanya. Aku memulai lagi dengan lebih serius dan lebih keras sampai giliran ku yang kedua tiba. Tapi entah kenapa, semakin aku berusaha tetap saja hasilnya sama. Hafalan ku tetap saja terbata-bata atau ada bagian yang hilang ketika aku menyebutkannya.
Sampai pada akhirnya giliran ku. Aku berjalan menuju meja guru dengan rasa deg-degan takut salah menyebutkan, takut katanya terbalik-balik, takut melupakan satu kata. “Silahkan” Ujar beliau. Dengan menarik nafas yang dalam menghilangkan rasa deg-degan mulai melantunkan ta’udz dan basmalah kemudian membaca surah al-Luqman ayat 12-15 beserta terjemahannya tentang orangtua dengan suara yang lantang. Tetapi lagi dan lagi aku terbata-bata dan melupakan beberapa kalimat sehingga membuatku ragu untuk menyelesaikan ayatnya. Ustadz membantuku menyebutkan satu kata sehingga aku dapat mengingat kata selanjutnya sampai menyelesaikan ayatnya.
Setelah menyelesaikan ayatnya aku melanjutkan dengan melafalkan hadist yang begitu panjang tentang proses peciptaan manusia. Dimana hadist ini merupakan salah satu hadist yang terdapat didalam kitab Matan Arba’in karangan imam Yahya Bin Syaraf Bin Muriy Bin Hasan Bin Husain Bin Muhammad Bin Jum’ah Bin Hizam Muhyiddin An- Nawawi Ad-Dimasyqi Asy-Syafi‟i Al-Asy‟ari atau sering disebut sebagai imam An-Nawawi.
Kitab ini berisi kumpulan empat puluh dua hadits mengenai pokok-pokok ajaran Islam dan kaidah-kaidah hukum. Kitab ini merupakan salah satu kitab yang sangat populer dari zaman ke zaman semenjak pertama kali disusun hingga saat ini terutama dikalangan anak pesantren.
Aku mempelajari kitab ini pada saat menduduki bangku kelas 2 SMP dimana kitab ini dibawakan oleh ustadzah Rahma. Ustadzah Rahma adalah istri Direktur Pondok. Ia berumur 40 tahun dengan postur badan yang ideal, ia memiliki 4 putri. Beliau adalah alumni dari Pondok pesantren DDI Mangkoso. Ustadzah Rahma adalah guru sekaligus tempat curhat yang sangat baik. Ia bahkan sering memberikan nasehat yang sangat berarti bagi diriku pribadi. Tidak semua santri bisa mendapatkan kesempatan seperti itu.
Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan hafalan hadist matan arbain itu kurang dari setahun pada tahun 2019 bersama dengan 5 orang teman angkatanku dan dalam sejarah baru angkatan ku yang bisa menyelesaikan hafalan empat puluh dua hadist pada tingkat Tsanawiyah. Mendengar hal itu kami merasa bangga bisa memulai hal baru yang dapat memicu semangat generasi dibawah kami.
Setelah menyelesaikan melafalkan hadist tentang proses penciptaan manusia. Hatiku sudah mulai lega dan merasa senang “akhirnya selesai juga.” Aku meminta ustadz menandatangani buku catatanku yang berisi hafalan yang baru saya hadapkan.
Sembari menandatangani, aku mengeluhkan kepada beliau tentang buruknya hafalanku “ustadz mengapa ketika aku menghafalkan sesuatu susah untuk mengingatnya?” Ujar ku dengan tertunduk lesu sembari menunggu buku ku selesai ditandatangani. Mendengar ucapan ku beliau memalingkan wajahnya ke arahku sembari tersenyum sambil berkata “itu tandanya kamu terlalu banyak dosa. Coba hindari berbuat maksiat.” Mendengar hal tersebut membuatku terdiam dan terpaku serta mengingatkan diriku tentang sebuah kisah imam Syafi’i yang mengadu kepada gurunya imam waqi yang disampaikan oleh ustadz Dwi ketika aku masih kelas 3 SMP pada mata pelajaran Mahfudzat atau pepatah Bahasa Arab. Ustadz Dwi adalah kepala Madrasah Tsanawiyah. Beliau adalah guru bahasa arab, Nahwu serta Mahfudzat. Ustdz Dwi adalah usatadz yang sangat asik jadi jangan heran kalau beliau termasuk ustadz yang kami idolakan.
Pada saat itu ustadz memberikan kami hafalan atau materi yang ingin dihafalkan berbahasa arab tentang ilmu. Kalau diartikan seperti ini.
“Imam Syafi’i R.A telah berkata:
Aku telah mengadu kepada imam waqi tentang buruknya hafalanku, lalu ia menunjukkan kepadaku agar aku meninggalkan maksiat.
Lalu ia memberitahukan padaku bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”
Mengingat hal tersebut, membuatku bertanya-tanya apakah ungkapan itu benar atau firasatku saja. “Ustadz maafkan saya, dosa saya sudah terlalu banyak pada ustadz. Doakan saya ustadz agar saya bisa menghafal dengan mudah.” Ujarku dengan nada menyesal. Mendengar ucapan ku ustadz Dahlan membalasnya dengan senyum sembari mengangguk mengiyakan permohonan maafku. Melihat respon beliau membuatku sangat senang dan lega. Seakan-akan aku merasa memasuki babak baru dalam hidup ku.
Aku melanjutkan pertanyaanku dan mulai menunjukkan ketertarikan ku mengenai pernyataan beliau perihal bebas semester pada mata pelajaran Ulumul Hadist atau Ilmu Hadist. Saat itu, bertepatan dengan aku sudah lama sekali mencari mata pelajaran yang mempelajari hadist sekaligus menghafalkannya. Semenjak dari kelas 2 SMP. Entah kenapa ketika membahas tentang hadist Rasulullah saw. Aku begitu tertarik dan ingin mempelajari lebih dalam lagi. Aku mengajukan diri bahwa aku mau menghafalkan hadist serta menceritakan bahwa ketika aku SMP aku sudah menyelesaikan kitab matan arbain dan 5 orang yang menyelesaikannya termasuk diriku. Mendengar ketertarikanku yang begitu serius beliau bersedia untuk mengajariku serta ingin meminjamkan kitabnya sebagai tahap pertama pembelajaran khusus mata pelajaran ulumul hadist. Aku sangat bahagia ketika ustadz Dahlan ingin meminjamkan kitabnya kepadaku “Entah apa yang sedang menimpaku saat ini. Semua jalan terbuka lebar bagiku untuk mempelajari hadist dari Nabi Saw.” Kataku dari dalam hati saking bahagianya. Selain ingin betul-betul mempelajari hadist aku juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan besar untuk tidak mengikuti ujian dengan nilai yang bagus dengan cara yang mudah.
Semenjak saat itu, aku mulai menerapkan apa yang disarankan oleh ustadz untuk menjauhi maksiat seperti tidak membahas hal-hal yang tidak penting untuk dibicarakan, menghibdari pertengkaran, dan lain-lain. Aku mulai menghafal hadist mulai dengan muroja’ah atau mengulang kembali hafalan hadist dari kitab matan arbain kemudian menambah 8 hadist yang berasal dari buku pelajaran Qur’an hadist dalam kurung waktu 4 bulan sampai sebelum ujian semester dilaksanakan. Tanpa sepengetahuan teman sekelas ku, aku mulai menghafal tapi dengan perasaan cemas dan ragu-ragu “apakah aku bisa menyelesaikan 50 hadist dalam waktu yang sesingkat itu? Sepertinya mustahil deh” Ujarku dalam hati.
Aku menepis pikiran negatif itu dan mulai mengatur strategi agar dapat mencapi target sampai batas waktunya.
Waktu berjalan begitu cepat, tanpa ku sadari aku yang awalnya sulit menghafal atau mengigat sesuatu semenjak melakukan apa yang disarankan oleh beliau dengan mudah mengingat atau menghafal sesuatu. Dan waktu ujian semester sisa seminggu lagi, masuklah ustadz Dahlan mengisi jam pelajarannya. Semua siswa sibuk mengejar target hafalan bebas semester mata pelajaran Qur’an Hadist. Sementara aku sibuk menghafal hadist untuk mata pelajaran ulumul hadist yang alhamdulillahnya aku dapat menyelesaikan target bebas semester untuk mata pelajaran qur’an hadist dari dua bulan yang lalu.
Pada pertegahan teman-teman ku menghadapkan hafalan tiba-tiba ustadz bertanya kepadaku “Ai, hafalan hadist mu tinggal berapa nak?” Mendengar pertanyaan itu semua pandangan teman kelasku tertuju kepadaku dengan tatapan heran. Aku yang mendengarnyapun tak menyangka bahwa ustadz akan bertanya mengenai hal tersebut didepan teman-temanku. Aku yang awalnya tidak ingin memberitahu teman-teman ku yang lain bahwa aku menghafal hadist dengan berat hati aku menjawab “kurang lebih 10 ustadz baru selesai” Dengan yang bergetar dan senyum yang malu-malu.
Mendengar hal tersebut ustadz hanya merespon dengan mengengguk-angguk kemudian melanjutkan mengetes temanku yang lain. Melihat respon beliau aku bertanya-tanya dalam benakku apa maksud dari respon beliau.
Waktu terus berjalan, tak terasa matahari telah berada diatas kepala. Suara adzan sudah berkumandang menandakan waktu Dzuhur telah masuk dan waktu jam mata pelajaran ustadz sudah habis. Beliau menunggu adzan selesai kemudian menutup kelas. Aku menghmapiri beliau diluar kelas
“Ustadz, bagaimana dengan bebas semesternya ustadz?” Sahutku dengan nada serius.
“Semisal kamu tidak bisa menyelesaikan targetmu sebelum ujian, kamu ndak bisa bebas semester. Tapi kamu masih punya kesempatan sampai ujian tiba. ” Ujar ustadz dengan raut wajah tersenyum sambil menepuk pundakku kemudian menignggalkan ku menuju masjid.
Pernyataan itu membuat ku gusar dan gelisah serta membuat hati kecilku ragu “apakah aku bisa menyelesaikannya?” Aku bersikeras untuk menghafal, mengejar waktu agar dapat bebas semester, sehingga membuat hafalanku nggak karuan serta memaksakan bahwa target itu tercapai bagaimanapun caranya.
Sampai suatu ketika aku menyetor hafalan dihalaman ruangan khusus para kyai pada hari jum’at pagi bersama beberapa temanku yang lain. Aku mempersilahkan mereka terlebih dahulu untuk menyetorkan hafalan kemudian aku yang paling terakhir. Seluruh teman-temanku yang lain sudah kembali keasrama sisa aku seorang.
Dengan rasa yang ragu-ragu aku menyetorkan hafalan hadist yang cukup panjang tentang pintu-pintu kebaikan. Salah satu hadist yang berada didalam kitab matan arbain tepatnya hadist yang ke-29. Aku yang belum hafal betul dengan hadist tersebut dengan terbata-bata menyetorkan. Mendengar hafalanku yang amburadul beliau memintaku mengulang kembali dari awal hadist. Setelah hadist itu selesai aku melanjutkan dengan hadist berikutnya sampai hadist ke-34. Melihat aku yang begitu memaksakan untuk menyelesaikan target tersebut. Beliau membisikkan sebuah nasehat kepada diriku yang tak pernah kulupakan sampai saat ini. “Ketika kamu ingin memulai sesuatu agar semuanya dipermudah perbaiki niat mu terlebih dahulu. Niatkan segala hal yang ingin kamu lakukan karena Allah semata.” Ujar beliau.
Mendengar kalimat itu keluar dari lisan beliau. Membuatku merenung dan menyadari selama ini aku salah, niat ku salah dari awal. Jalan ku dipersulit untuk menghafal didetik-detik terakhir karena aku hanya ingin mengejar nilai sedangkan yang ku pelajari ini bukan hanya sekedar nilai semata, ada hal lain yang lebih spesial dari nilai. Memahami hal tersebut aku merespon ucapan beliau dengan menarik nafas yang dalam sambil tersenyum dan mengatakan “baik ustadz.” Aku pamit menyalimi tangan beliau.
Semenjak saat itu aku tidak pernah lagi mengharapkan hal yang lebih dari apa yang ku lakukan cukup melakukan yang terbaik hasilnya pasti juga tak akan kurang dari kerja kerasku. Aku tak mempersoalkan lagi masalah bebas semester atau tidak, kegagalan ku kali ini memicuku untuk melakukan yang lebih dikemudian hari.
*Karya : Nur Salsabila Majid – Jurusan Kesehatan Lingkungan 2023






