Wanita Dengan Mahar Buku

oleh
Susanti, Wanita yang penerima mahar buku

MAKASSAR, INTELLIGENT Susanti seorang perempuan yang lahir di Polmas 33 tahun lalu. Beliau adalah istri dari seorang penulis yang bernama Andika Mappasomba.

Mungkin biasa biasa saja ketika kita mendengar istri dari seorang penulis. Namun, yang menarik dari ibu Susanti adalah beliau dinikahi oleh suaminya dengan mahar sebuah buku yang isinya berupa kumpulan kumpulan puisi yang dibuat oleh suaminya.

“Mungkin orang orang mengatakan begitu bodohnya saya ingin menikah dengan hanya diberi mahar sebuah buku. Jangankan orang lain, keluarga sayapun awalnya tidak setuju dengan keputusan saya,” katanya saat berbagi kisah inpiratifnya di acara Road Show Pengembangan Minat Baca Tahun 2018 (4/09)

Namun, ibu Susanti tetap pada pendiriannya. Bukan sesuatu yang sepele, ibu susanti memiliki alasan tersendiri mengapa beliau ingin diberi mahar sebuah buku. Dan alasan tersebut mungkin bisa menyadarkan para wanita jaman sekarang terutama wanita yang berada pada pulau Sulawesi bahwa, Uang Panai yang mahal itu bukan sebuah jaminan.

“Jangan pernah menganggap uang panai adalah segalanya. Karena uang panai bisa dinilai berapapun banyaknya. Justru carilah uang panai atau mahar yang tidak ternilai harganya bagaimanapun itu. Misalnya seperti buku,” lanjutnya saat duduk di kursi dengan memegang perutnya yang sedang mengandung anak kedua.

Sosok beliau sangat berbeda dengan wanita wanita yang lain, karena beliau tak menghitung sesuatu dari berapa banyak nilai dan jumlah nominalnya. Akan tetapi, beliau melihat sesuatu itu tak ternilai sampai kapanpun itu dan akan terus abadi. Meskipun bentuknya sangat sederhana dan jauh dari kata istimewa.

Ada satu hal ungkapan beliau yang membuat wajah kagum saja saat menatapnya berubah menjadi wajah yang tertawa, yaitu pada saat beliau mengatakan bahwa saya ingin menikah dengan suami saya karena saya ingin hidup saya abadi. Karena menulis atau membuat karya dengan tulisan itu akan abadi.

“Menurut Imam Gazali, jika kau bukan anak raja, bukan anak seorang penguasa maka menulislah jika kau ingin abadi. Saya sangat ingin abadi tapi saya belum bisa menulis. Maka dari itu, saya menikah dengan seorang penulis. Dengan cara itu saya numpang untuk hidup abadi,” jawabnya dengan sedikit tawa.

Lewat kisah yang dibagikan beliau saya mampu menyadari satu hal, bahwa sesuatu yang berlebihan itu nantinya akan berganti dengan sesuatu yang lebih berlebihan lagi. Akan tetapi, sesuatu yang sangat sederhana itu akan tetap menjadi sederhana dan memberi makna yang indah ketika kita mampu menerima dan menyadarinya.

 

Reporter : Kru- Rni