Sosok Penyelamat Buta Aksara

oleh
Keseharian Brigpol Ilham Nur, Penggerak Pustaka Bergerak.

MAKASSAR, INTELLIGENT – “Cintailah buku. Semoga dengan mencintai buku, bisa membuka hati untuk rajin membaca dan menambah khazanah pengetahuan yang dimiliki”.

Itu merupakan pesan dari seorang Brigpol Ilham Nur yang merupakan tokoh penggerak literasi disalah satu desa yang terpencil di Kabupaten Sinjai.

Berawal dari beliau ditempatkan disebuah desa terpencil, yaitu desa Terasa yang berada di Kabupaten Sinjai yang sampai sekarang belum tersentuh oleh jalanan aspal. Dengan keadaan seperti itu, mengakibatkan warga yang ada di sana sangat sulit untuk menerima akses yang baik serta informasi informasi yang baru. Seperti halnya dengan membaca. Ada banyak sekali anak anak disana yang masih belum mampu membaca.

Dengan melihat masalah tersebut, pak Ilham yang latar belakangnya adalah seorang polisi berjuang dengan berbagai tantangan untuk bisa mengenalkan pada warga yang berada disana untuk mencintai dan menyukai buku.

“Yang saya lakukan pertama didesa tersebut yaitu mengubah pola pikir masyarakat terlebih dahulu. Karena pada umumnya, masyarakat jika melihat seorang polisi pasti akan ketakutan,” katanya saat menceritakan perjuangannya untuk membuat warga desa Terasa mencintai buku pada Road Show Pengembangan Minat Baca 2018.

Perkataan beliau tersebut membuat kami para peserta Road Show tertawa.

Beliau berusaha bersahabat dan dekat dengan warga warga disana. Bahkan beliau dikenal sampai pada kalangan anak Taman Kanak Kanak (TK). Begitu muliah dan tulus hati beliau untuk mengubah pola pikir warga di sana.

Jika dipikir pikir, untuk apa beliau melakukan itu semua? Padahal hal tersebut sama sekali tidak masuk dalam tugas dan tanggungjawab beliau sebagai seorang aparat negara. Namun, dengan keinginan dan kegigihan beliau untuk memberantas dan menyelamatkan warga di desa tersebut dari yang namanya buta aksara, maka beliau melakukannya dengan tulus meski ada banyak hambatan.

“Dengan akses jalan yang tidak memadai, seringkali saya mendorong motor saya ketika saya mengantarkan buku buku kesekolah sekolah yang berada disana,” lanjutnya.

‌Perjuangan beliau pun tidak sia sia. Beliau berhasil membuat para warga terkhusus pada anak anak untuk mencintai buku. Setelah itu, perjuangan beliau tidak sampai disitu saja. Beliau terus melakukan penyuluhan serta pemahaman kepada warga agar tetap menyukai buku. Dan beliau pun berhasil mempengaruhi pemerintah yang berada disana untuk membuat sebuah pojok baca yang sementara ini dalam proses pembangunan. Dan ini merupakan pojok baca pertama di kabupaten Sinjai.

Hal tersebut tidak mudah untuk didapatkan, beliau bersama warga disana berjuang dengan penuh semangat sehingga bisa mewujudkan hal tersebut.

Dan satu yang membuat saya bangga dengan beliau adalah meskipun ini bukan tugas veliau, akan tetapi beliau tetap berjuang untuk menegakkan literasi dan menyelamatkan para warga yang ada disana dari buta aksara.

 

Reporter : Kru-Rni