Mengenal Sosok Roehana Koeddoes, Wartawati Pertama Indonesia

oleh -
Potret Roehana Koeddoes dan ungkapannya yang fenomenal.

MAKASSAR, INTELLIGENT – Setiap tanggal 21 April, Indonesia tak pernah luput memperingati Hari Kartini. Raden Ajeng Kartini (R.A.Kartini) merupakan sosok pahlawan wanita yang dikagumi masyarakat Indonesia, khususnya kaum hawa.

Bagaimana tidak, Kartini merupakan pejuang emansipasi wanita. Ia menyuarakan keadilan bagi wanita Indonesia. Selain sosok R. A. Kartini, rupanya ada pula sosok pejuang wanita lainnya yang turut menyuarakan keadilan bagi wanita. Dia Roehana Koeddoes, sang wartawati pertama Indonesia.

Rohana Kudus lahir pada tanggal 20 Desember 1804 di Koto Gadang, Sumatera Barat. Ayahnya ialah seorang Kepala Jaksa di Pemerintahan Hindia-Belanda, bernama Moehammad Rasjad Maharadja Sutan dan ibunya bernama Kiam.

Berkaca dari latar belakang ayahnya yang berpendidikan, tak heran Rohana kecil tumbuh sebagai wanita yang cerdas meski tak pernah mengenyam pendidikan. Di umurnya yang masih lima tahun, ia sudah dapat memahami abjad latin, arab, dan arab melayu. Tak hanya itu, ia fasih berbahasa belanda kala usianya masih delapan tahun.

Pada tahun 1908, ia menikah dengan seorang notaris bernama Abdullah Kudus. Selain lulusan hukum di Batavia, Abdullah kudus juga merupakan aktivis pergerakan dan gemar menulis di surat kabar terbitan Jawa dan Sumatera.

Kehidupan jurnalistiknya dimulai ketika ia menuliskan surat kepada Datuk Sutan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe, di  Padang. Ia mengatakan, ia ingin wanita juga diberikan ruang untuk menulis di surat kabar.

Surat itu mengantarkan Rohana bertemu dengan Maharadja. Rohana meminta kepada sang Pemimpin Redaksi untuk menerbitkan surat kabar khusus wanita. Namun, kesibukan Rohana pada sekolah yang telah dia dirikan, membuatnya ragu dapat mengelola surat kabar itu sendiri.

Oleh karena itu, Datuk Sutan Maharadja menyarankan Ratna Juwita Zubaidah yang merupakan anaknya sendiri untuk bekerja sama dengan Rohana Kudus. Ratna bertanggung jawab atas keperluan redaksi, sedangkan Rohana bertugas mencari pengisi rubrik surat kabar mereka.

10 Juli 1912 merupakan tanggal terbitnya surat kabar wanita pertama, bernama Soenting Melajoe. Sunting yang berarti perempuan dan Melayu sebagai identitas wilayahnya, memiliki pengertian bahwa surat kabar ini dipersembahkan bagi kaum perempuan di seluruh Melayu.

Kala itu, Rohana benar-benar memanfaatkan dengan baik keberadaan Soenting Melajoe sebagai wadah pikiran dalam bentuk tulisan. Rohana Kudus dengan antusias memperkenalkan surat kabar wanita itu kepada kawan-kawan dan muridnya untuk menuangkan pikiran mereka. Contohnya, tulisan mengenai obat kolera, merupakan karya dari Istri Wiria Atmadja.

Saat kartini ingin persamaan derajat wanita maka Rohana ingin wanita mendapatkan pendidikan dan penghargaan yang pantas untuk mereka. Ia sangat tahu bahwa sampai akhir hayat seorang wanita tak akan sama dengan lelaki walaupun memiliki tugas dan kewajiban yang sama. Ia hanya ingin penetapan fungsi wanita di masyarakat sesuai dengan kodrat wanita yang ditetapkan oleh Tuhan.

*Reporter : Kru-M11