Dosen Jual Buku, Mahasiswa Mengaku Diberi Iming-iming Tambahan Nilai

oleh -
Ilustrasi pembelian buku berkaitan dengan tambahan nilai.

MAKASSAR, INTELLIGENT – Sejumlah mahasiswa mengungkapkan adanya penjualan buku yang dilakukan oleh dosen di Poltekkes Kemenkes Makassar (Polkesmas) dengan iming-iming pemberian tambahan nilai di mata kuliah dosen tersebut.

Buku berjudul Bahasa Indonesia Strategi dan Teknik yang ditulis oleh Dr. H. Muhammad Asdam, S.Pd.,M.Pd sebagai dosen mata kuliah bahasa Indonesia dijual dengan harga Rp 100 ribu kepada mahasiswa Polkesmas.

Salah satu mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan (Kesling), Putri (bukan nama sebenarnya) membeberkan, setelah membeli buku tersebut, masing-masing mahasiswa akan menulis namanya untuk diberikan tambahan nilai.

“Kata dosen itu hari katanya itu buku tersebut tidak dijual di toko buku mana pun, cuma ada di beliau. Terus kami itu katanya harus memiliki buku tersebut sebagai media pembelajaran kami. Makanya kami sebagian ingin membeli buku tersebut. Eh, tapi pas buku tersebut dibeli kata dosennya disuruh catat namanya yang membeli buku tersebut, katanya agar ada sedikit tambahan nilai, kata beliau,” terangnya.

Seperti halnya Putri, mahasiswa Kesling lainnya, Putra (nama samaran) juga mengatakan bahwa pembelian buku tersebut berhubungan dengan pemberian nilai afektif di mata kuliah bahasa Indonesia kepada mahasiswa.

“Tugasnya dari buku itu, sama berkaitan dengan nilai afektif, karena waktu pas ambil bukunya, nama yang membeli buku dicatat,” ujarnya, Minggu (11/10).

Disisi lain, dosen mata kuliah bahasa Indonesia, Dr. H. Muhammad Asdam, S.Pd.,M.Pd menampik adanya pemberian nilai sebagai keuntungan bagi mahasiswa yang membeli bukunya seharga Rp 100 ribu tersebut.

“Kalau saya dek tidak ada pengaruhnya, biar tidak beli kalau jawabannya benar dapat A. Biar ada bukunya kalau jawabannya jelek tidak dapat A, kan ada indikatornya,” ungkapnya.

Ia beralasan, penjualan buku tersebut dia adakan untuk memudahkan proses belajar mengajar bagi mahasiswa yang terkendala akses jaringan dan berada di wilayah terpencil.

“Saya menerangkan jangan dijawab sembarangan tugasnya,  gunakan internet. Banyak yang jawab tidak bagus jaringan di daerahku. Saya altenatif anda miliki bahan ajarnya, ada toko. Jawab kita jauh. Bagaimana bantu kita kirimkan yang mau.  Saya repot mencarikan demi menuntaskan pembelajaran, karena dia tinggal di daerah pelosok, seperti Kalimantan,” jelasnya.

Penjualan buku oleh dosen telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 2 Tahun 2008 Pasal 11 yang menyatakan bahwa pendidik dilarang bertindak menjadi distributor atau pengecer buku kepada peserta didik di satuan pendidikan, kecuali buku-buku yang hak ciptanya sudah dibeli oleh departemen.

Senada dengan peraturan tersebut, Wakil Direktur (Wadir) I, Dr. Rusli, SpFRS, Apt juga menuturkan bahwa pihak kampus dilarang untuk mengadakan pungutan selain Uang Kuliah Tunggal (UKT) kepada mahasiswa Polkesmas.

“Poltekkes dengan Uang Kuliah Tunggal tidak diperkenankan lagi memungut biaya ke mahasiswa karena kalau itu dilakukan, maka itu menjadi temuan,” kata Rusli.

“Sudah kami panggil yang bersangkutan nanti hari Senin saya ketemu untuk klarifikasi,” imbuhnya kepada Kru Intelligent, Jumat (09/10).

*Reporter: Kru-M52