Aliran Listrik Sekretariat Tiada, Birokrasi Polkesmas Tutup Mata

oleh -
Ilustrasi Tidak Adanya Aliran Listrik Sekretariat

MAKASSAR, INTELLIGENT — Dukungan kampus terhadap fasilitas yang digunakan mahasiswa terutama dalam mengembangkan kemampuan kritis di lingkungan organisasi sangat diperlukan. Namun hal ini berbanding terbalik dengan hal yang dilakukan oleh birokrasi Polkesmas terhadap Organisasi Mahasiswa (Ormawa).

Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai kebijakan irasional yang dikeluarkan oleh birokrasi seperti pembatasan aktivitas mahasiswa yang hanya boleh beraktivitas didalam lingkup kampus hingga petang saja.

Seperti yang diungkapkan salah satu mahasiswa jurusan Kesehatan Lingkungan, Mehdi (bukan nama sebenarnya) bahwa birokrasi seolah-olah menjunjung tinggi demokrasi tapi tidak dibuktikan oleh kebijakan yang dikeluarkan dan hal ini terlihat sebagai upaya pembatasan kebebasan berekspresi bagi mahasiswa.

“Seperti kebijakan aturan jam malam ini, dimana aturan kontraproduktif ini menghilangkan ruang-ruang kritis yang ada di kampus, kampus yang seharusnya turut andil mendukung mahasiswa dengan menyediakan ruang-ruang yang ada bagi ormawa untuk berproses, birokrasi seakan takut terhadap mahasiswa yang terlampau kritis terhadap birokrasi,” tukas nya.

Respon dari lembaga-lembaga yang ada di Polkesmas sendiri beragam, sebagian besar menolak diterapkannya aturan tersebut, sebagiannya lagi menerima dan tak bergeming sedikitpun. Pihak birokrasi kampus pun menginstruksikan untuk setiap ketua ormawa agar membuat surat pernyataan, surat pernyataan yang dibuat berarti menaati surat edaran pembatasan jam malam yang dikeluarkan. Ormawa yang tidak setuju menolak untuk membuat surat pernyataan tersebut, tak pelak hal ini menuai reaksi represif dari birokrasi, pihak birokrasi sendiri mengancam akan memutus aliran listrik jika ada lembaga mahasiswa yang tidak menaati surat edaran pembatasan aktivitas malam.

Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang pengurus ormawa Yuanita (bukan nama sebenarnya) menuturkan bahwa akses aliran listrik untuk sekretariat belum didapatkan namun hal ini tak menjadi penghalang untuk berkarya.

“Sampai sekarang iyya belum dapat akses listrik untuk di sekretariat, kami sambung listrik di bangunan kampus yang berdekatan dari sekretariat kami, tidak ada kejelasan mengenai kapan akses listrik tersebut bisa ditindak lanjuti oleh birokrasi,” tuturnya.

Senada dengan Yuanita, Anwar yang juga salah satu pengurus ormawa mengungkapkan bahwa kegiatan UKM terhambat akibat tidak adanya akses listrik di sekretariatnya dan aliran listrik yang coba disambung ke sekretariatnya beberapa kali diputus oleh orang tak dikenal.

“Kami yang belum mendapatkan akses listrik langsung, hanya menyambung listrik dari sebelah, dan keesokan harinya itu, sambungan listrik yang telah dibuat telah dirusak oleh orang tak dikenal, entah itu kabel yang sengaja digunting atau colokan yang dirusak,” tambahnya.

Sudah menjadi kewajiban bagi pihak birokrasi dalam mewadahi dan memfasilitasi kebutuhan setiap lembaga ormawa yang ada, tetapi hingga saat ini birokrasi Polkesmas masih menutup mata akan persoalan mendasar ini, pasalnya pihak birokrasi hanya ingin memberikan akses listrik jika setiap lembaga ormawa yang ada di lingkup Polkesmas membuat dan menandatangani surat pernyataan bersedia mematuhi surat edaran yang dikeluarkan oleh Direktur. Sedangkan surat edaran sendiri yang berisi perihal pembatasan akses jam malam sudah jelas aturan yang bermasalah dan ditolak oleh sebagian besar ormawa yang ada di Polkesmas.

*Reporter: Kru M-02